MENYERAHKAN KURBANNYA KEPADA ORANG LAIN, LALU OLEH ORANG LAIN ITU DIWAKILKAN KEPADA ORANG LAIN LAGI UNTUK DIPOTONG.

Bagaimanakan seseorang yang menyerahkan seekor kambing untuk kurbannya kepada orang lain dengan berkata, ” Ini kambing untuk kurban saya”, dengan tidak memakai kat-kata pernyataan mewakilkan. Setelah waktunya  kurban, orang yang menerima kurban tadi menyatakan mewakilkan kepada pembantu pemotong hewan, cukupkah hal yang sedemikian itu sebagai kurbanya ?.

Dalam keputusan Muktamar NU di semarang pada tada tanggal 19 september 1929 Menyatakan:Cara yang demikian itu dianggap cukup sebagai kurbannya sebagaimana yang dikuatkan oleh Imam Haramain dan Imam Ghozali.
Keterangan, dalam kitab syarah Muhadzdzab:

ولوقال جعلت هذه الشاة أضحية فهل يكفيه التعيين والقصد عن نية التضحية والذ بح فيه وجهان:أصحها عند الاكثرين لايكفيه إلى أن قال: ورجح إمام الحرامين والغزالى الإكتفاء تتضمنه النية. وبهذا قطع الشيح أبو حامد. قال لوذبحها وبعتقد ها شاة لحم أو دبحها لص وقعت المو قع والمذ هب الأول.إهى. شرح المهذب

Seandainya (pemilik kambing) berkata: kambing ini aku jadikan sebagai binatang kurban, apakah cukup penentuan dan tujuan dari niat berkurban dan sekaligus penyembelihan. Dalam hal ini ada dua pendapat, Yanag paling kuat menurut kebanyakan ulama’ bahwa yang demikian itu tidak cukup… Imam al-Haromain dan Imam al-Ghazali lebih mengunggulkan pendapat yang menyatakan cukup, karena sudah terkandung dalam niat. Oleh karenanya, maka al-Ghozali berkata: seandainya disembelih dan berkeyakinan bahwa binatang itu merupakan kambing potong atau disembelih oleh pencuri, maka niat berkurban tetap terpenuhi. Sedangkan pendapat yang lebih sesuai dengan madzhab adalah pendapat yang pertama (tidak cukup).