WALI MUJBIR MENGAWINKAN ANAK GADISNYA YANG SUDAH DEWASA DENGAN PEMUDA YANG SEKUFU

 Bolehka seorang wali mujbir(mempunyai hak paksa) memaksa anak gadisnya yang sudah dewasa untuk dikawinkan dengan pemuda yang kufu(sepadan) tetapi ia menolak bahkan ia menyatakan lebih baik mati dari pada dikawinkan dengan pemuda tersebut, sedang ia sendiri mempunyai pilihan pemuda lain yang kufu pula?.

Boleh, tetapi makruh, asal tidak ada kemungkinan akan timbul bahaya. Keterangan, dalam kitab Bujairimi ‘ala Iqna Juz III:

 أم مجرد كراهتها من غير ضرر فلايؤ ثر لكن يكره لوليهاأن يزوجها به كما نص عليه في الأم ويسن استئدان البكر إذا كانت مكلفة لحد يث مسلم. والبكر يستأ مرها أبوها وهو محمول على الند ب تطييبا لخاطرها. إهى. البجيريمى على الإقناع في كتاب النكاح

Adapun sekedar ketidaksukaan wanita tanpa hal yang dharuri (terpaksa), maka tidak berpengaruh,(terhadap keabsahan perkawinan), akan tetapi dimakruhkan bagi walinya untuk mengawinkannya sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab al-Umm. Disunnatkan minta izin kepada perawan jika memang sudah dewasa berdasarkan hadist Muslim:” Seorang ayah harus meminta persetujuan dari anaknya yang masih perawan”. Hadist ini dipahami sebagai “sunnah” demi menghargai perasaan.