MENGQODHO’ SHOLAT WAJIB

Bagaimana kalau sholat wajib itu tidak dilaksanakan pada waktunya? Apakah harus diganti diwaktu lain ( qodho’)? Apakah pendapat itu terdapat dalam salah satu madzhab empat?.

Para ulama’ sependapat(ijmak) bahwa Sholat wajib itu diqodho’i apabila tidak dikerjakan pada waktunya. Tidak ada pendapat yang tidak mewajibkan qodho’ kecuali pendapat yang salah ( bathil), yaitu pendapat Ibnu Hazmin.
Keterangan, dalam kitab Syarah al-Muhadzdzab Juz III:

فرع. أجمع الذ ين يعتد بهم أن من ترك صلا عمدا لزمه قضاؤها وخالفهم أبو محمد علي ابن حزم قال: لايقد رعلى قضائها أبدا ولا يصح فعلها أبدا قال بل يكثر من فعل الخير والتطوع ليثقل ميزانه يوم القيامة ويستغفرالله تعالى ويتوب   وهذا الذي قاله مع أنه مخالف للإجماع باطل من جهة الد ليل. الجزء الثالث من شرح المهد ب

Para ulama’ mu’tabir telah sepakat, bahwa barang siapa meninggalkan Sholat secara sengaja, maka ia harus meng-qodho (menggantinya).Pendapat mereka ini berbeda dengan pendapat Abu Muhammad Ali Bin Hazm yang berkata: bahwa ia tidak perlu meng-qodho selamanya dan tidak sah melakukannya selamanya, namun ia sebaiknya banyak melakukan kebaikan dan sholat sunnah agar timbangan (amal baiknya) menjadi berat pada hari kiamat, serta istighfar kepada Alloh dan bertobat.Pendapat ini bertentangan dengan ijmak dan bathil berdasarkan dalil yang ada.