JIHAT MELAWAN SETAN

إِنّالْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوْذُبِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْيَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ اِلهًا يَجْرِى كُلُّ عَامِلٍ عَمَلاً صَلِحًا. وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلَّذِيْ بَعَثَهُ اللهُ بَصِرًا وَنَذِارًا. اَللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ  عَلَى سَيْدِنَا مُحَمَّدٍ  وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. اَمَّا بَعْدُ : فَيَااَيُّهَاالْمُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَقَالَ تَعَالىيَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْااتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَوَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا،

Jamaah Jumat rahimakumullah

Alhamdulillah kita panjatkan syukur kepada Allah SWT yang senantiasa memberikan banyak kenikmatan yang tidak terhitung nilai dan jumlahnya. Nikmat tersebut dicurahkan siang dan malam kepada kita. Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senang bersyukur kepada-Nyaوsolawat dan salam mudah-mudahan tetap dicurahkan kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW karena berkat beliaulah kita bisa membedakan antara yang hak dan yang bathil. Dan sebagai rasa syukur atas segala nikmat  yang telah diberikan Alloh SWT kepada kita, maka, marilah kita senantiasa meningkatkan taqwa dan taqarrub kepada -Nya.

Jamaah Jumat rahimakumullah

Sebagai hamba Alloh yang beriman kita menyadari, bahwa setiap diri ini memiliki musuh besar, Musuh yang sangat menginginkan kita sesat dan celaka. Musuh yang tidak terlihat, tapi memiliki banyak tipu-daya dan cara untuk mencapai tujuannya, yaitu setan.
Allah SWT telah mengingatkan manusia agar tidak tergoda olehnya. Hal ini sesuai firman Allah didalam QS  al-A’râf, 27:

يَا بَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah berhasil mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga.

Oleh karena itu, dengan rahmat-Nya, Allah SWT memerintahkan manusia untuk menjadikan setan sebagai musuh. Karena memang sebenarnya, setan itu musuh bagi manusia. Allah SWT berfirman didalam QS Fâthir, 6:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh nyata bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.

Jamaah Jumat rahimakumullah

Tentang sepak terjang musuh terhadap lawannya, tentu semua orang sudah tahu yaitu berusaha sekuat tenaga agar lawannya ditimpa segala keburukan dan terlepas dari semua kebaikan.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengomentari ayat di atas, Tentang Perintah Allah untuk menjadikan setan sebagai musuh, ini adalah “sebagai peringatan agar (manusia) mengerahkan segala kemampuannya untuk memerangi dan melawannya. Sehingga setan itu seolah-olah musuh yang tidak pernah berhenti dan tidak pernah lalai” di dalam menjalankan aksinya menyesatkan dan membinasakan manusia. Setan memiliki dua senjata yaitu syubhat dan syahwat. Oleh karena itu, orang yang ingin selamat harus berjihad melawan setan dengan bersenjatakan ilmu dan membersihkan jiwanya. Ilmu yang bermanfaat akan membuahkan rasa yakin, yang akan menolak syubhat. Sedangkan tazkiyatun nafs akan melahirkan ketakwaan dan kesabaran, yang membuatnya mampu mengendalikan syahwat.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Jihad melawan setan memiliki dua tingkatan : Pertama, menolak syubhat dan keraguan yang dilemparkan setan kepada hamba; Kedua, menolak syahwat dan keinginan-keinginan jelek yang dilemparkan setan kepada hamba. Jihad yang pertama akan diakhiri dengan keyakinan, sedangkan jihad yang kedua akan diakhiri dengan kesabaran.

Allah SWT berfirman didalam QS As Sajdah, 24 :

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.

Allah SWT memberitakan bahwa kepemimpinan agama hanya bisa diraih dengan kesabaran dan keyakinan, kesabaran akan menolak syahwat dan keinginan-keinginan jelek, dan keyakinan akan menolak keraguan dan syubhat.”

Jadi senjata manusia untuk melawan setan adalah ilmu dan kesabaran. Ilmu yang bersumber dari kitabullâh dan sunnah Rasul-Nya. Kemudian mengamalkan ilmu tersebut sehingga jiwa menjadi bersih dan suci, dan menumbuhkan kesabaran.

Itulah cara menghadapi tipu daya syaitan secara global, sedangkan secara rinci adalah sebagai berikut :

1. Beriman Dan Mentauhidkan Allah Dengan Benar

Sesungguhnya seluruh kekuatan, kekuasaan, kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Oleh karena itu, seorang hamba yang ditolong dan dilindungi oleh Allah SWT, tidak akan ada yang mampu mencelakainya. Inilah senjata pertama dan utama seorang mukmin dalam menghadapi setan yaitu beriman dengan benar kepada Allah SWT, beribadah dengan ikhlas kepada-Nya, bertawakkal hanya kepadaNya dan beramal shalih sesuai aturan-Nya.  Allah SWT memberitakan bahwa setan tidak memiliki daya terhadap hamba-hamba Allah yang beriman dan mentauhidkan-Nya. Sesuai firman Alloh didalam QS an Nahl 99 :

إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya syaitan itu tidak ada memliki kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Ketika Iblis tahu bahwa dia tidak memiliki jalan (untuk menguasai) orang-orang yang ikhlas, dia mengecualikan mereka dari sumpahnya yang bersyarat untuk menyesatkan dan membinasakan (manusia). Iblis mengatakan,

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ. إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlash [Shâd  82-83]

Allah SWT berfirmandidalam QS al Hijr, 42 :

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلاَّ مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ

Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu (Iblis) terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti-mu, yaitu orang-orang yang sesat.

Maka ikhlas adalah jalan kebebasan, islam adalah kendaraan keselamatan, dan iman adalah penutup keamanan. [al-‘Ilmu, Fadhluhu Wa Syarafuhu, hlm. 72-74, tansiq: Syeikh Ali bin Hasan Al-Halabi]

2. Berpegang Teguh Kepada Al-Kitab Dan As-Sunnah Dengan Pemahaman As-Salafush Shalih

Ketika Allah  SWT menurunkan manusia di muka bumi, sesungguhnya Dia menyertakan petunjuk untuk mereka. Sehingga manusia hidup di dunia ini tidak dibiarkan begitu saja, tanpa bimbingan, perintah dan larangan. Allah SWT menurunkan kitab suci dan mengutus para Rasul yang membawa peringatan, penjelasan dan bukti-bukti. Barangsiapa berpaling dari peringatan Allah, maka dia akan menjadi mangsa setan dan dijerumuskan ke dalam kecelakaan abadi.

Allah SWT berfirman didalam QS az Zukhruf 36 :

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ

Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Rabb yang Maha Pemurah (al-Qur’ân), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.

Oleh karena itu, jalan selamat dari tipu daya setan adalah dengan mengikuti jalan Allah, mengikuti al-Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman as-salafush shâlih.

Allah SWT berfirman didalam QS an Nisa’ 115 :

وَمَنْيُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰوَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلّىٰوَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa menentang rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min (yaitu jalan para sahabat), Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali.

3. Berlindung Kepada Allah Dari Gangguan Setan.

Inilah sebaik-baik jalan untuk menyelamatkan diri dari setan dan tentaranya, memohon perlindungan kepada Allah SWT, karena Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui dan Maha Berkuasa.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Makna “aku berlindung kepada Allah dari setan yang dilaknat” yaitu aku meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang dilaknat yang menggangguku pada agamaku atau pada duniaku, atau menghalangiku dari melakukan sesuatu yang diperintahkan Allah SWT kepadaku, atau mendorongku melakukan apa yang terlarang bagiku. Karena tidak ada yang bisa mencegah setan dari manusia kecuali Allah.

Oleh karena itu, Allah SWT memerintahkan untuk mengambil hati dan bersikap lembut kepada  manusia, dengan melakukan kebaikan kepadanya, agar tabi’atnya (yang baik) menolaknya dari gangguan (yang dia lakukan).

Dan Allah SWT memerintahkan agar (manusia) berlindung kepada-Nya dari setan jin, karena dia tidak menerima suap dan perbuatan kebaikan tidak akan mempengaruhinya, karena dia memiliki tabi’at yang jahat, dan tidak akan mencegahnya darimu kecuali Yang telah menciptakannya.” [Tafsir Ibnu Katsir, 1/14, penerbit: Darul Jiil, Beirut, tanpa tahun]

Memohon perlindungan ini dilakukan secara umum pada setiap waktu, pada setiap diganggu oleh setan, dan juga dilakukan pada waktu-waktu tertentu yang dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman  didalam QS al A’rof 200 :

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Adapun waktu-waktu tertentu yang dituntunkan untuk beristi’adzah antara lain yaitu saat diganggu setan; adanya bisikan jahat; gangguan dalam shalat; saat marah; mimpi buruk; akan membaca Alquran; akan masuk masjid; akan masuk tempat buang hajat; saat mendengar lolongan anjing dan ringkikan keledai; ketika akan berjima’; waktu pagi dan petang; isti’adzah untuk anak-anak dan keluarga; ketika singgah di suatu tempat; ketika akan tidur; dan lain-lain. Perincian dalil-dalil ini semua terdapat di dalam hadits-hadits yang shahih.

4. Membaca Alquran

Sesungguhnya setan akan lari menjauh dengan sebab bacaan Alquran, sebagaimana di dalam hadits sebagai berikut:

عَنْأَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِوَسَلَّمَ قَالَ:لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَيَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda: Janganlah kamu menjadikan rumah-rumah kamu sebagai kuburan, sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah di dalamnya”. [HR. Muslim]

Setan telah membukakan salah satu rahasianya ini kepada Abu Hurairah, yang hal itu dibenarkan oleh Rasulullah SAW . Setan mengatakan:

إِذَاأَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ ( اللهُ لاَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ) حَتَّى تَخْتِمَ الآيَةَفَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللهِ حَافِظٌ وَلاَ يَقْرَبَنَّكَشَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ فَأَصْبَحْتُ

“Jika engkau menempati tempat tidurmu, maka bacalah ayat kursi (Allohu laa ilaaha illa huwal hayyul qayyuum) sampai engkau menyelesaikan ayat tersebut, maka sesungguhnya akan selalu ada padamu seorang penjaga dari Allah, dan setan tidak akan mendekatimu sampai engkau masuk waktu pagi”. [HR. Bukhari]

5. Memperbanyak Dzikrulloh.

Dzikrullah adalah benteng yang sangat kokoh untuk melindungi diri dari gangguan setan. Hal ini diketahui dari pemberitaan Allah SWT lewat para RasulNya, antara lain lewat lisan Nabi Yahya ‘alaihissallam, sebagaimana hadits di bawah ini:

عَنْالْحَارِثِ الاَْ َشْعَرِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِوَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللهَ أَمَرَ يَحْيَى بْنَ زَكَرِيَّا بِخَمْسِكَلِمَاتٍ أَنْ يَعْمَلَ بِهَا وَيَأْمُرَ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنْيَعْمَلُوا بِهَا…وَآمُرُكُمْ أَنْ تَذْكُرُوا اللهَ فَإِنَّ مَثَلَذَلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ خَرَجَالْعَدُوُّ فِي أَثَرِهِ سِرَاعًا حَتَّىإِذَا أَتَى عَلَى حِصْنٍ حَصِينٍ فَأَحْرَزَ نَفْسَهُ مِنْهُمْ كَذَلِكَالْعَبْدُ لاَ يُحْرِزُ نَفْسَهُ مِنَ الشَّيْطَانِ إِلاَّ بِذِكْرِاللهِ

Dari Al-Harits Al-Asy’ari, bahwa Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah memerintahkan Yahya bin Zakaria dengan lima kalimat, agar beliau mengamalkannya dan memerintahkan Bani Israil agar mereka mengamalkannya (di antaranya)…”Aku perintahkan kamu untuk dzikrullah (mengingat/menyebut Allah).

 Sesungguhnya perumpamaan itu seperti perumpamaan seorang laki-laki yang dikejar oleh musuhnya dengan cepat, sehingga apabila dia telah mendatangi benteng yang kokoh, kemudian dia menyelamatkan dirinya dari mereka (dengan berlindung di dalam benteng tersebut). Demikianlah seorang hamba tidak akan dapat melindungi dirinya dari setan kecuali dengan dzikrullah”. [HR.Ahmad]

Maka jika anda ingin selamat dari tipu-daya dan gangguan setan, hendaklah selalu membasahi lidah anda dengan dzikrullah disertai konsentrasi dengan hati.

6. Mengetahui Tipu-Daya Setan Sehingga Mewaspadainya.

Setan itu sangat berantusias menyesatkan manusia, ia habiskan waktunya dan segala kemampuannya dikerahkan untuk merusak manusia. Allah ‘Azza wa Jalla memperingatkan hamba-hambaNya yang beriman dari musuh bebuyutan tersebut dengan firmanNya didalam QS an Nur 21 :

يَاأَيُّهَاالَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنيَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَآءِوَالْمُنكَرِ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar.

Salah satu cara menghindari tipu daya setan yaitu mengetahui dan membongkar tipu-daya itu sehingga dapat dihindari. Karena orang yang tidak mengetahui keburukan, dia akan mudah terjerumus dalam keburukan tersebut tanpa disadari.

7. Menyelisihi Setan Dan Menjauhi Sarana-Sarananya Untuk Menyesat – kan Manusia.

Setan adalah musuh manusia. Oleh karena itu, kita wajib memposisikannya sebagai musuh. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman didalam QS Fathir 5:

يَآأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ فَلاَ تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلاَيَغُرَّنَّكُمْ بِاللهِ الْغُرُورُ

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.

Diantara realisasi dari hal diatas yaitu dengan menyelisihi perbuatan setan. Misalnya:
• Setan makan dan minum dengan tangan kiri, maka selisihi dia dengan makan dan minum dengan tangan kanan.
• Tidak boros (tabdziir) karena orang yang berbuat tabdziir adalah saudara setan.
• Melakukan sesuatu dengan tenang dan hati-hati, karena sikap tergesa-gesa dari setan.

• Hendaklah kita berusaha sekuat tenaga agar tidak menguap, karena itu dari setan.

Dalil-dalil yang kami sebutkan ini, terdapat di dalam hadits-hadits yang shahih.

Diantara realisasi sikap permusuhan terhadap setan adalah menjauhi sarana-sarana yang digunakan oleh setan untuk menyesatkan manusia, seperti: Judi dan khamer.

8. Taubat Dan Istighfar.

Selama masih hidup, manusia senantiasa perlu bertaubat dan istighfar kepada Allah ‘Azza wa Jalla, diriwayatkan dalam sebuah hadits:

عَنْأَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّىاللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ إِبْلِيسَ قَالَ لِرَبِّهِبِعِزَّتِكَ وَجَلاَ لِكَ لاَ أَبْرَحُ أُغْوِي بَنِي آدَمَ مَا دَامَتِالأَرْوَاحُ فِيهِمْ فَقَالَ اللَّهُ فَبِعِزَّتِي وَجَلاَلِي لاَأَبْرَحُ أَغْفِرُ لَهُمْ مَا اسْتَغْفَرُونِي

Dari Abu Sa’id Al-Khudri, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Iblis berkata kepada Robbnya: “Demi kemuliaan dan keagunganMu, aku senantiasa akan menyesatkan anak-anak Adam selama ruh masih ada pada mereka”. Maka Allah berfirman: “Demi kemuliaan dan keagunganKu, Aku senantiasa akan mengampuni mereka selama mereka mohon ampun kepadaKu”. [HR. Ahmad]

Inilah sedikit keterangan tentang setan dan tipu-dayanya, semoga bermanfaat bagi kita semua.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْانِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ اْلايَاتِ وَاذِّكْرِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَالْغَفُوْرُالرَّحِيْمُ. أَقُوْلُقَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ الله لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرّحِيْمُ

 

 

 

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ ِللهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَااَمَرَ.وَأَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًالِمَنْ جَحَدَ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ سَيْدُ الاِْنْسِ وَالْبَشَرِ. اَللّهُمَّ صَلِّى وَسَلِّمْ وَبَارِكْ  عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْتَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. اَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوْاللهَ وَاعْلَمُوْااَنَّ اللهَ يُحِبُّ مَكَارِمَ اْلاُمُوْرِوَيَكْرَهُ سَفَاسِفَهَا يُحِبُّ مِنْ عِبَادِهِ اَنْ يَكُوْنُوْا فِيْ تَكْمِيْلِ اِسْلاَ مِهِ وَاِيْمَانِهِ وَاِنَّهُ لاَيَهْدِى الْقَوْمَ الْفَاسِقِيْنَ.اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِناَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلى آلِ سَيِّدِناَ إِبْرَاهِيْمَ فِىْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَوَالْمُؤْمِنًاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌمُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَقَاضِيَ الْحَاجَاتِ اَللَّهُمَّ رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَابَعْدَ اِذْهَدَيْتَنَاوَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ.رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْ فِىْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ اَمَنُوْارَبَّّنَا اِنَّكَ رَؤُفٌ رَحِيْمٌ.رَبَّنَا لاَتُؤَخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْأَخْطَأْنَا رَبَّّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُعَلىَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَلَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَنَافَانْصُرْنَا عَلىَ الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. رَبَّّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَالِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.عِبَادَاللهِ. اِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَلاِْحْسَانِ. وَاِيْتَاءِذِى الْقُرْبىَ وَيَنْهىَ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوااللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُاللهِ اكْبَرُ.